Wirausaha Mahasiswa UNPAD

Berwirausaha? Siapa Takut!

Meski dikabarkan telah menurun angkanya, ternyata masih banyak juga lulusan perguruan tinggi di negeri ini yang menjadi pengangguran. Sebuah berita di Kompas menyebutkan, tahun 2010 saja tercatat sebanyak 23 juta penduduk Indonesia yang tidak bekerja, dan ironisnya, jumlah ini justru didominasi oleh para sarjana. Hal ini terjadi antara lain karena sebagian besar lulusan perguruan tinggi Indonesia tidak memiliki keterampilan nonakademis.

Di tengah gelombang ketidakpastian ini, sejumlah mahasiswa justru memandang dunia kerja dengan yakin dan percaya diri. Mereka adalah mahasiswa yang sedari kuliah telah merintis usaha sendiri. Jumlah mereka kian hari kian banyak, hingga fenomena wirausaha ini seolah tengah menjadi tren di kalangan mahasiswa dari berbagai penjuru daerah.

Hafidz ketika diwawancara Senin (28/2) sore.

Adapun satu di antara mereka ialah Hafidz, mahasiswa S1 Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor yang kini tengah menempuh semester akhirnya di Fakultas Farmasi. Sejak bulan Februari 2011, ia telah membuka usaha ternak kelinci di daerah Tanjung Sari, Sumedang. Dengan modal yang relatif sedikit, yaitu sebesar lima juta rupiah, ia sudah bisa memulai usahanya tersebut. “Kelinci hias terhitung cepat perkembangannya, sehingga perputaran uangnya juga cepat.” ujarnya.

Sebelumnya, Hafidz juga sudah pernah mencoba usaha ini bersama seorang kawannya, tapi kini ia memutuskan untuk merintis usahanya sendiri. Menurut pengalamannya tersebut, usaha ternak kelinci yang sudah mampu menjual 100 ekor kelinci per bulan bisa menghasilkan omzet hingga 5-6 juta rupiah. “Belum lagi kotoran kelinci sendiri yang bisa dijual sebagai bahan pupuk,” tambahnya sambil tertawa.

Kedai Sushi Boon yang bertempat di daerah Dago, Bandung.

Seperti halnya Hafidz, beberapa mahasiswa Bandung juga berinisiatif untuk merintis usaha mereka sendiri saat masih duduk di bangku kuliah. Berwujud sebuah kedai sushi bernama Sushi Boon, usaha ini dirintis oleh Daniel Hutabarat bersama tujuh orang temannya yang berasal dari ITB serta Unpad pada Februari 2009.

Alumni Teknik Sipil ITB angkatan 2006 ini menjelaskan, saat kuliah ia dan teman-temannya memang tidak terlibat dalam organisasi apapun. Merasa takut kalah saing di masa depan, mereka pun sepakat untuk mendirikan suatu organisasi yang berorientasi profit.

“Saya rasa Sushi Boon adalah pembuktian jati diri bahwa kami juga punya sesuatu di samping aktivitas sebagai mahasiswa biasa. Ini juga merupakan proses pembelajaran tentang sebuah organisasi profit, yang membuat kami semua lebih percaya diri untuk masuk ke dunia kerja dan bersaing,” papar Daniel. Usaha mereka ini pun kemudian meroket hingga mampu meraup keuntungan hingga 80 juta rupiah per bulan.

Beberapa profil wirausahawan muda lainnya ialah Intan Sukmana, mahasiswi Manajemen Informatika STIMIK LIKMI angkatan 2009, serta Hadi Rianto, mahasiswa Akuntansi Universitas Maranatha angkatan 2007. Bersama seorang temannya, Intan kini mengelola usaha online shop (OS) berbasis Facebook yang diberi nama Angel Ladys Shop. Sementara itu, Hadi memiliki usaha kerajinan kayu di daerah Cimahi yang dinamakan Kriyas bersama Ayahnya.

Hasil kerajinan kayu Kriyas

Meskipun banyak mengalami kendala sejak mulai merintis hingga sekarang, para wirausahawan muda mengaku menikmati kegiatan ini. “Kita dituntut untuk mampu mengatur segala sesuatunya sendiri, namun justru di situlah kenikmatan berwirausaha,” ujar Hafidz.

Pendapat Daniel pun senada, “Banyak hal yang kita pelajari, menambah percaya diri, dan profitnya juga lumayan,” tuturnya.

Para Pionir Padjadjaran

“Mahasiswa berwirausaha itu mulanya memang tampak seperti tren, tetapi sekarang sudah menjadi kebutuhan. Para sarjana sendiri kan memang diarahkan untuk menciptakan lapangan pekerjaan,” begitu ungkap Pardi Setiawan, Ketua De Pioneer.

Merupakan buah inisiatif sejumlah mahasiswa Unpad, lahirlah De Pioneer, sebuah komunitas wirausaha yang mewadahi mahasiswa yang sudah maupun baru akan mulai berwirausaha. Organisasi yang menaungi ratusan kelompok wirausaha mahasiswa ini sudah berdiri sejak November 2009.

Dalam misinya mendorong mahasiswa untuk kreatif berwirausaha, De Pioneer memfasilitasi mahasiswa Unpad yang ingin mengajukan permohonan dana kepada rektorat. Dana yang didapat berkisar antara 8-24 juta rupiah, yang kemudian digunakan sebagai modal bagi kelompok yang mengajukan permohonan.

Pardi Setiawan, ketua umum komunitas wirausaha mahasiswa De Pioneer.

Bercerita mengenai kelompok wirausahanya sendiri, Pardi yang adalah mahasiswa Fakultas Teknologi Industi Pangan (FTIP) Unpad itu bertutur, “Awalnya sih nggak tahu 24 juta itu cukup atau tidak. Setelah dihitung-hitung, ternyata dana tersebut pas-pasan. Saya kemudian mengajukan proposal lagi ke rektorat dan ternyata disetujui,” ujarnya sumringah.

Namun meski tampak menjanjikan, tak semua mahasiswa yang terjun ke dunia wirausaha mampu bertahan. Menurut Pardi, dari ratusan kelompok mahasiswa De Pioneer yang mencoba merintis usaha, hanya sebagian yang usahanya tetap stabil. Jumlah ini pun kian menyusut seiring berjalannya waktu. Pada akhirnya, hanya tersisa belasan kelompok yang usahanya tetap berjalan hingga sekarang.

Bagi Pardi yang telah merintis usaha Laundry Pongowash di daerah Sayang, Jatinangor ini, banyak nilai plus dari berwirausaha. Selain dapat belajar me-manage orang lain, berwirausaha dapat menguatkan mental dalam menghadapi persaingan dunia kerja. Para wirausahawan pun menjadi lebih fleksibel dalam menghadapi orang lain.

Kepada para mahasiswa yang ingin berwirausaha, Pardi memberi sejumlah kiat. “Pertama, cari tahu ke orang-orang yang sudah berwirausaha. Kedua, siapkan mental, jangan berwirausaha hanya untuk ikut-ikutan. Dan yang paling penting, mulailah segera. Do it. Semua ilmu yang telah diserap tak akan berguna bila tidak dipraktikkan.” tuturnya bersemangat.

Oleh: Patricia Renya, Yohannie Linggasari, Khara Gracia

Iklan

1 Komentar

  1. Pardi Setiawan said,

    Maret 5, 2011 pada 3:52 pm

    semangat berwirausaha


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: